Jumat, 03 Juni 2016

Zidane Si Manusia Trofi

By on 03.26.00

Martinus Adinata, CNN Indonesia

Zidane Si Manusia Trofi Zinedine Zidane, si manusia trofi, sudah mencicipi berbagai macam trofi baik di timnas maupun di klub. (LeagueReuters / Kai Pfaffen)
Jakarta, CNN Indonesia -- Julukan Si Manusia Trofi bagi Zinedine Zidane tampaknya memang pantas disematkan. Pasalnya, pria Perancis keturunan Aljazair itu sudah melengkapi satu lagi piala setelah pernah mencicipi trofi di klub maupun timnas.

Mantan bintang tim nasional Perancis yang kini beralih profesi menjadi pelatih ini pun mengukir sejarah atas namanya sendiri. Rekor itu tercipta usai membawa Real Madrid menjadi raja Eropa, juara Liga Champions, Minggu (29/5) dini hari WIB.

Pasalnya, kemenangan itu membuat Zidane menjadi pelatih kedua Madrid yang mampu meraih trofi Liga Champions, baik ketika masih merumput di lapangan hijau maupun saat menjadi pelatih.

Zidane merebut trofi Liga Champions sebagai pemain pada musim 2001/02 ketika menjadi bagian dari proyek megabintang, Los Galacticos, yang diprakasai Florentino Perez.

Kini, usai menggondol trofi Liga Champions musim 2015/16 sebagai pelatih Madrid, Zidane menyamai pencapaian Miguel Munoz, yang sebelumnya merupakan satu-satunya pemain dan pelatih yang mampu menjuarai Liga Champions bersama Madrid.

Namun secara keseluruhan, Zidane sendiri merupakan pelatih ketujuh yang pernah menjuarai Liga Champions sebagai pemain dan pelatih.

Selain Zidane dan Munoz, nama-nama lain yang pernah menggondol Liga Champions baik sebagai pemain dan pelatih adalah Giovanni Trapattoni, Johan Cruyff, Carlo Ancelotti, Frank Rijkaard, dan terakhir Pep Guardiola.

Akan tetapi, Zidane berhasil mencatat sejarah sendiri lantaran selain sebagai pemain dan pelatih, ia juga turut mengantarkan Madrid sebagai juara Eropa saat menjadi asisten pelatih.

Pada musim 2014, Zidane merupakan asisten Ancelotti, ketika Los Blancos meraih gelar Liga Champions ke-10 mereka.

Hal tersebut membuat Zidane merupakan satu-satunya pesepak bola yang mampu merebut Liga Champions sebagai pemain, asisten pelatih, dan pelatih kepala.

Di timnas Perancis, Zidane sudah pernah mencicipi trofi Piala Dunia 1998 dan Piala Eropa 2000. Lengkap sudah gelar juara yang pernah dirasakan Zizou, sapaan akrabnya.
(bac)

Real Madrid Akhirnya Kembali Mendapatkan Trofi Champions

By on 03.22.00

Real Madrid mengakhiri musim 2015/2016 dengan indah. Berada dalam situasi hancur-hancuran di paruh awal musim, Los Blancos justru berhasil jadi juara Liga Champions musim ini.

    Real Madrid Juara Liga Champions 2015/2016 (Reuters / Carl Recine)

Di awal musim, kedatangan Rafa Benitez sudah membuat sejumlah pihak mengernyitkan dahi. Pasalnya Benitez dianggap tak layak menggantikan Carlo Ancelotti yang sukses membangun suasana harmonis di ruang ganti Madrid.

Benar saja, keraguan sejumlah pihak tersebut sudah terjawab di paruh awal musim. Madrid bermain kurang meyakinkan dan suasana panas tercipta di ruang ganti lewat pertikaian Benitez dengan Ronaldo.

Buruknya performa Madrid di Liga Spanyol kemudian membuat manajemen memutuskan untuk menghentikan kerjasama dengan Benitez. Benitez keluar, Zinedine Zidane langsung ditunjuk sebagai pelatih Madrid.

Banyak yang menganggap Zidane hanyalah pelatih sementara hingga musim ini berakhir. Zidane ibarat jembatan penghubung yang bertugas mengantarkan Madrid hingga musim baru akan datang.

Zidane pun menyadari benar tugasnya itu. Ia tak mau bermimpi terlalu tinggi karena ia sadar statusnya di Madrid belum tentu permanen dan bertahan lama.

Kehadiran Zidane inilah yang kemudian mengubah cerita kehidupan Madrid musim ini. Zidane memang minim pengalaman dan masih hijau dalam hal taktik. Namun Zidane punya karisma yang cukup kuat untuk ukuran pemain sepakbola.

Karisma itulah yang digunakan Zidane untuk membangkitkan Madrid dari keterpurukan. Pertikaian di ruang ganti semakin lama tak terdengar dan Madrid mulai kembali ke rute yang benar.

Zidane membawa Madrid berlari kencang tanpa target berlebihan. Trofi La Liga sudah jauh dari jangkauan dan trofi Liga Champions butuh perjuangan berat seiring masih banyaknya lawan-lawan kuat.

Namun ternyata Zidane sukses membawa Madrid berlari menyamai laju Barcelona dan Atletico Madrid. Bila saja Zidane datang lebih cepat atau pekan La Liga tersisa lebih banyak, bukan tak mungkin Madrid bisa menggusur Barcelona yang tengah limbung.

Kebangkitan di La Liga turut membuat Madrid semakin percaya diri saat tampil di Liga Champions. Bila di La Liga Madrid sudah menderita kerugian dengan selisih poin yang terlalu banyak saat Zidane datang, maka posisi Madrid sama halnya dengan tim lain di Liga Champions.

Satu per satu lawan kuat dilewati Madrid di fase knock out, mulai dari AS Roma, Wolfsburg, hingga Manchester City.

Di babak final, Madrid kembali berjumpa Atletico Madrid, rival sekota yang juga mereka taklukkan dua musim sebelumnya. Meskipun sempat tertekan di pengujung pertandingan, Zidane dan Madrid berhasil mengakhiri pertandingan dengan kemenangan di tangan.

Satu trofi Liga Champions di pengujung musim ini jelas membuat musim buruk Madrid berakhir indah. Musim yang pada awalnya ingin dilupakan oleh suporter Madrid kini berubah jadi salah satu musim yang pantas dikenang oleh mereka. (ptr)